Hai, aku boleh cerita?
Nama aku Reni, umurku 14 tahun. Jadi gini, aku punya sahabat namanya itu scoliosis. Sudah hampir 5tahun aku bersamanya. Dia itu setia banget, gapernah mau jauh dari aku. Dengan setia dia selalu menemaniku, saat senang dan sedih dia selalu ada bersamaku. Tapi scoliosis itu suka ngambek, aku gasuka kalau dia lagi ngambek. Kalau dia ngambek itu nyakitin aku, dia bikin punggung sampai pinggul ku sakit, rasanya tuh sampe gabisa diungkapin. Kadang yang bikin aku sampe nangis, pinggul aku itu terasa miring banget. Semakin kesini, dia semakin egois, dia sering matahin semangat aku, seringkali bikin aku sedih ketika aku bercermin, bikin aku minder, dan dia makin gak bersahabat.
Pertama kali aku menyadari kehadirannya adalah ketika aku duduk di bangku kelas 5 SD. Saat aku sedang duduk mamah ku bilang “Ni, kok punggung kamu makin bungkuk ya?” Aku yang sedang asik bermain tak menghiraukan apa yang dikatakan mamaku, lagi pula saat itu aku belum sepenuhnya menyadari kehadirannya, yang aku tau hanyalah punggung ku agak sedikit bengkok. Dari kecil aku sudah rajin berenang, makanya pada saat itu scoliosis belum terlalu mempengaruhi hidupku. Tapi semua itu mulai berubah saat aku memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat aku SMP, aku mulai disibukkan oleh banyak kegiatan disekolah, tentu semua kegiatan itu seringkali membuat ku kelelahan, waktu ku untuk renang pun ikut tersita karna banyak nya kegiatan ku disekolah membuat ku memilih untuk beristirahat saat liburan dibanding harus capek-capek berenang. Semakin lama, rasa sakit itu mulai menjadi-jadi. Rasa ngilu di tulang belakang, sesak nafas, beradu menjadi satu setiap kali aku selesai melakukan berbagai aktifitas yang melelahkan.
Saat aku bercermin..
Ada apa dengan ku? Dengan tulang belakangku? Kenapa semakin terlihat tidak simetris?
Aku sebelumnya tak pernah menyangka, bahwa punggungku akan sebengkok ini. Kemudian aku baru ingat, waktu aku SD aku pernah belajar tentang macam-macam kelainan tulang belakang, aku mencari ciri-ciri kelainan tulang belakang seperti yang aku alami, dan.. ya, scoliosis aku menyandang scoliosis. Sejak saat itu, aku menjadi lebih sering mencaritahu tentang scoliosis.
Hingga pada suatu hari kedua orangtua ku membawaku terapi ketempat spesialis tulang. Itu adalah terapi pertamaku, sakit nya bukan main, bahkan aku sampai harus menggunakan benda yang bernama gips. Aku fikir, tak apalah selama aku masih bisa menahan rasa sakit itu. Aku terus bersabar, setiap 3 hari aku menjalani terapi itu dengan rutin, padahal dalam waktu 3 hari itu sakit sesudah terapi pun masih berbekas. Ada rasa ingin menyerah, aku takut jika semua ini sia-sia. Tapi aku juga ingin bisa kembali normal, lalu aku buang rasa takut itu jauh-jauh.
Tapi hanya 1 bulan aku sanggup menjalani terapi itu. Nihil, hanya sakit yang kurasa, tak ada perubahan apapun secara fisik. Hingga selang beberapa bulan kemudian, orangtua ku membawa ku ke dokter spesialis tulang (orthopedi). Disana aku diperiksa, aku disuruh membungkuk 90 derajat, setelah itu aku disuruh keruang radiologi untuk di rontgen terlebih dahulu. Setelah diradiologi, dokterpun menjelaskan tentang hasilnya.
Ya, benar aku menyandang scoliosis, derajat kemiringan ku adalah 35 derajat, iya memang tidak terlalu besar, tapi berhubung aku memiliki badan yang gendut jadi 35 derajat saja sudah sangat menggangguku. Lalu, aku bercerita banyak pada dokter, tentang rasa sakitku, aku juga banyak bertanya mengenai scoliosis. Dan dengan sabar dokter menjawab pertanyaanku satu per satu.
Tapi ada satu jawaban yang membuat ku sangat terpukul, ketika aku bertanya tentang penyembuhan dengan cara terapi dokter malah menjawab “Terapi itu sia-sia hanya buang-buang uang saja, cuman nyiksa kamu, di terapi itu sakit banget kan?”. Rasanya hatiku bagai dicabik-cabik, jadi selama ini aku menahan rasa sakit itu.. semuanya sia-sia?
Aku kembali menjalani kehidupan normal ku seperti biasa, dengan sahabatku tentu nya si scoliosis. Tak jarang orang memandangku dengan tatapan aneh, tak jarang teman-teman ku meledek ku karna aku memiliki tulang belakang yang tak normal seperti mereka.
Kadang aku marah, aku sedih, kenapa? Kenapa harus aku yang menerima semua ini, Yang merasakan semua rasa sakit ini?
Sekarang aku kembali menjalani terapi alternatif, kali ini sakitnya tak sesakit yang sebelumnya, sudah 3 bulan aku menjalani terapi ini, aku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Jadi, apa salahnya jika aku mencobanya kembali?
Ketika ‘sahabat’ ku ini marah, karna aku telalu lelah melakukan berbagai aktifitas yang melelahkan.. aku hanya bisa diam, bersabar, menahan amarah. Karna scoliosis aku jadi tidak leluasa melakukan berbagai aktifitas, karna dia aku jadi tidak bisa memakai macam-macam pakaian yang sedang trend, karna dia aku seringkali kehilangan kepercayaan diriku. Terkadang aku ingin menceritakan keluh kesah ku tentang scoliosis ini kepada teman-temanku, orangtua ku, tapi mereka selalu menjawab dengan jawaban “Sabar” iya, aku tau aku harus sabar, aku tau aku harus kuat, tapi sekuat-kuatnya anak umur 14 tahun itu sekuat apasih? Siapa sangka jika dibalik gelak tawaku tersimpan ribuan kisah pilu. Cobalah tengok kedalam, hatiku begitu rapuh tiap kali aku mengingat tentang scoliosis, tapi rasanya tak pantas jika aku harus menyalahkan takdir.
Tapi lama-lama aku sadar..
Dia lah yang membuatku menjadi kuat
Dia bisa menunjukan siapa yang benar-benar mau menjadi temanku
Dia yang melatihku untuk menjadi lebih sabar, ketika orang-orang memandangku sebelah mata
Dia mendukungku untuk menutup aurat
Dia yang buat aku sadar, sesempurna nya orang, pasti memiliki kekurangan
Kalau kenyataannya aku memang scoliosis, aku tak perlu lagi berkecil hati, karna aku tidak sendiri. Masih banyak teman-teman ku diluar sana yang scoliosis bahkan jauh lebih parah dari aku:).
Ini adalah foto sahabatku, diambil pada tanggal 19 Agustus 2013.

Aku sadar..
Aku ga akan selamanya bersamamu seperti sekarang ini.
Saat waktu itu tiba, aku harus bisa merelakanmu pergi dariku.
Meski dengan harapan jika suatu hari nanti kita akan dipersatukan kembali.
Jika waktu itu telah tiba..
Akankah kau sepenuhnya melupakanku?Disaat aku benar-benar merindukanmu
Akankah kau..Ah, sudahlah tak ada guna aku berharap banyak padamu.
Tapi jika nyatanya kau memang merasakan hal yang sama denganku..
Ah itu tidak mungkin!Pertanyaan macam itu sering kali menggangu fikiranku
Jika suatu saat aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu. Apa yang harus aku lakukan?
Ada rasa ingin menghubungi mu kembali, hanya untuk menanyakan kabarmu atau bertanya "sedang apa dirimu?" meski kesannya begitu klise.
Karna aku pun tidak tau mau memulai darimana.
Tapi belum selesai aku memikirkan cara bagaimana untuk melepas rinduku padamu pertanyaan itu kembali muncul "Apakah kau masih menganggap ku ada?"
Seharusnya aku senang karna mungkin kau telah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ada yang mengatakan "Aku bahagia hanya bila kau bahagia" Ya, mungkin memang benar. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.
Jika nyatanya kau bahagia bersama oranglain, apakah aku masih harus tetap 'bahagia' atau bahkan berpura-pura untuk bahagia? Sepertinya tidak, karna itu jelas akan lebih menyakitkan.
Lantas aku harus apa?

Hari ini adalah hari
yang paling menegangkan baginya. Karena hari ini dia akan menjalani serangkaian
tes untuk mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi, Universitas Islam Negeri
(UIN).
“ibuu” panggilnya
dengan semangat.“ada apa nak?” sahut
ibunya.“aku berangkat dulu ya
bu, do’ain aku ya bu semoga aku lulus tes” katanya sambil mencium tangan
ibunya.“iya ibu do’ain,
hati-hati ya nak.” Putri Salsabila adalah seorang gadis yang berusia 18
tahun. Dia terlahir dan hidup di keluarga yang kurang mampu, semenjak ayahnya tiada dia hanya tinggal
bersama sang ibu di rumah kecilnya. Tetapi dia adalah sosok gadis yang memiliki
semangat yang tinggi meskipun dia menyandang scoliosis ideopatik. Apa itu scoliosis?
Scoliosis adalah kelainan tulang
belakang yang berupa kelengkungan ke samping. Sedangkan Scoliosis ideopatik adalah kelainan
tulang belakang yang dideritanya sejak dia lahir. Keterbatasan biaya membuatnya
tidak bisa memeriksakannya. Meskipun dia tahu kematian mulai menyapanya tapi ia
berusaha untuk tetap tegar.
Dia melangkahkan kakinya menuju tempat dimana dia akan
menghadapi tes.“Bismillah... semoga aku bisa ngerjain tesnya. Aamiin”katanya dalam hati.Tidak lama kemudian pun
dia keluar dari dalam ruangan tes dengan raut wajah yang sangat gembira. “Alhamdulillah yaRabb aku bisa ngerjain
tesnya “
Dia pun segera pulang
dengan hati yang sangat gembira.“Assalamuala’ikum, ibuuu aku lulus tes buu aku lulus tes” teriaknya
saat mulai memasuki rumah.“Waalaikumsalam, Alhamdulillah put ibu senang sekali kamu bisa
lulus” kata ibunya dengan gembira sambil menghampiri anaknya. ------- Satu minggu
kemudian ------ Hari ini adalah hari pertamanya masuk kampus. Dia berangkat
menuju kampus dengan menggunakan kendaraan umum, dia sangat gembira pada hari
itu, dia berangkat dengan senyum manis yang terpampang diwajahnya. Setelah sampai di kampus ia segera menuju
kelasnya disana dia bertemu dengan banyak sekali orang asing, dia merasaa
sangat ketakutan sehingga dia berlari menuju toilet di samping kelasnyaSetelah selesai dia
kembali menuju kelasnya. Dia memilih untuk duduk disamping seorang perempuan
yang berada dibelakang.“hai, gue Bella”
sapanya sambil menjulurkan tangan dan memberikan senyuman.“hai, aku Putri”
balasnya sambil ikut menjulurkan tangannya dan tersenyum. Lalu mereka berdua
pun melanjutkan pembicaraannya. Tak lama kemudian bel pulang pun berbunyi,
dengan sigap mereka langsung merapihkan barang-barang mereka dan langsung
bergegas pulang. Keesokan harinya dia berangkat kekampus
seperti biasanya, sesampainya dia dikampus tidak lama kemudian bel masuk pun
berbunyi dengan nyaringnya. Tidak lama setelah bel masuk berbunyi, dosen bidang study pun datang dengan seseorang. “Selamat pagi siswa-siswi, apa
kabar kalian semua?” sapa dosen.
“Baik ibu” jawab
muridnya. “Hari ini ibu akan memperkenalkan seorang
siswa baru kepada kalian. Nama dia David Morata dia adalah siswa pindahan dari
Universitas Pamulang (UNPAM). David silahkan kamu duduk di sana” sambil
menunjuk bangku kosong di belakang Putri. Lalu David pun berjalan menuju bangku
yang berada tepat berada dibelakang Putri. Lalu David berkenalan dengan Putri
dan Bella kemudian merekapun lama kelamaan menjadi sangat akrab.
Suara
bel pulang pun berbunyi, dan mereka bertiga berencana untuk pergi jalan-jalan
ke taman. Mereka pun saling menceritakan tentang masa-masa SMAnya termasuk
kelainan Putri pada teman-temannya . Lalu setelah hari menjelang malam mereka
pulang bersama.
Ibu Putri sangat cemas karena hari sudah hampir malam
tetapi Putri belum pulang juga. “Aduh Putri kok belum pulang juga ya, kemana
ini anak?” katanya dengan perasaan cemas. Tidak lama kemudian Putri pun datang.“Assalamu’alaikum.. ibuu, Maaf bu Putri pulangnya agak telat.”
Katanya merasa bersalah, ia tahu ia sudah membuat ibunya khawatir karena pulang
terlambat.“Wa’alaikumsalam, kamu dari mana aja sih Put? Bikin ibu khawatir
aja” tanyanya dengan nada sedikit lega.“Tadi aku habis main
sama teman-teman baru aku dikampus bu.. maaf ya bu” jawabnya .Tidak lama kemudian
Putri merasakan rasa sakit pada punggungnya dan ia mengatakan rasa sakitnya
kepada ibunya.“Ibu....
punggung aku sakit lagi nih” keluhnya sambil menghampiri ibunya yang sedang
duduk.“Put,
punggung kamu sakit lagi? Aduh maaf ya nak, sampe sekarangibu masih belum bisa
bawa kamu ke dokter...” Jawab ibunya dengan nada khawatir.“Nggak
apa-apa kok bu, aku bisa ngertiin “ sahutnya sambil tersenyum pada ibunya, lalu
dia pun pergi menuju kamar meninggalkan ibunya. Putri yang hanya hidup bersama ibunya
dalam keterbatasan tidak pernah patah semangat. Meskipun ia tau rasa sakit itu
seringkali muncul ketika ia sedang melakukan aktivitas apapun, dimanapun, dan kapanpun. Meskipun
dia tau umurnya tak lagi lama karna skoliosis sudah mulai menyerang paru-parunya yang terdesak oleh semakin miring tulang belakangnya itu. Nasib
bukan ia ratapi, tapi ia jalani. Putri selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan
oleh Allah SWT. Dia yakin, jika ia bersungguh-sungguh maka apapun yang orang
normal kerjakan, pasti ia pun bisa. Dia tidak peduli seberapa buruk tulang
belakangnya itu, ia tidak peduli bagaimana orang memandang kekurangannya. Yang
dia tau ia hanya harus menjadi orang
kebanggaan ibu, almarhum bapaknya, serta sahabatnya karna tanpa kasih sayang yang
mereka berikan, Putri tidak akan menjadi gadis setegar ini. Keesokan harinya ia terbangun dan
merasakan sakit yang luar biasa pada punggungnya “ahh, punggungku sakit”.
Dengan terpaksa dia pun bangun dari tempat tidurnya untuk berangkat kekampus, tetapi
tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak.Jam sudah menunjukkan pukul 07:30 tetapi
Putri belum juga keluar dari kamarnya,sang ibu pun heran diliputi rasa khawatir
lalu dia pun memanggil putri kesayangan-nya itu.“Putriii
ayo cepat berangkat sudah siang nak”Namun
tak ada jawaban dari putrinya itu. Sang ibu mulai panik dia segera kekamar
menghampiri putrinya. Beliau dapati anaknya tengah tergulai lemas ditempat tidurnya.“bu.....ibu......”kata-kata
yang tersisa yang masih sanggup dia ucapkan.Semakin
padatnya kegiatan yang iya kerjakan pada saat kuliah, semakin ganas pula scoliosis menggerogoti organ tubuhnya.
Selama ini dia sudah sekuat mungkin melawan sakitnya itu. Kini dia sudah tidak
bisa melawan rasa sakitnya itu lagi. Dia sudah terlalu kuat untuk menjalani
hidup sebagai seorang scolioser. Sepulang dari kampus, Bella dan David memutuskan pergi kerumah Putri. Mereka kesana dengan mengendarai mobil David, karena sudah
2 hari ini mereka tidak melihat Putri
dikampus. Setibanya mereka dirumah Putri, mereka terkejut mendapati Putri
sahabatnya yang tergulai lemas hampir tak bernyawa.“Yaampun
Put ini udah parah banget seharusnya kamu udah ditanganin sama dokter dirumah sakit, kenapa kamu gak
kesana?” ujar David dengan sangat cemas. Tetapi Putri tak menjawab dia terlalu
lemah untuk bisa menjawab perkataan orang. Bella tak kuat membendung air matanya
ketika melihat sahabat yang sangat dia sayangi itu tergulai lemas seperti itu.“Iya
ibu, kenapa Putri gak dibawa kedokter aja?” ucap Bella sambil terisak. Kemudian
ibunya menceritakan apa yang terjadi sehari sebelum mereka datang kerumah. Saat
itu dikala Putri sakit, ibunya sudah bertekad membawa Putri kerumah sakit,
berapapun biayanya beliau akan berusaha keras mencarinya demi Putri
kesayangannya itu, beliau berniat ingin menjual ginjalnya untuk biaya oprasi
anak tunggalnya itu. Tetapi saat Putri tidak sengaja mengetahui hal tersebut, dengan bersi keras putri melarangnya hingga akhirnya ibunya menuruti apa
kemauan anaknya. Tiba-tiba Putri mengucapkan sesuatu “Ibu
terimakasih ya..20 tahun ini sudah kau sudah merawatku, membimbingku,
memberikan seluruh cinta dan kasih sayangmu kepadaku, Bella, David, Terimakasih
juga 2tahun terakhir ini udah menghiasi hidupku, memberi warna-warna pada
hidupku, kalian memang sahabat terbaikku, terimakasih atas semua kebaikan dan
kebahagiaan yang telah kalian beri.....” Sambil meneteskan air mata, dia menghembuskan
nafas terakhirnya didepan orang-orang yang sangat dia cintai.“Putri...aku
tau sakit rasanya dikala mendengar orang berkata “kamu harus tetap kuat” aku
tau...kata yang sangat mudah diucap itu bukanlah hal yang mudah untuk kamu
lakukan, begitupun dengan kata “kamu harus bersabar,berjuang” karna sudah cukup
bersabar dirimu menghadapi cobaan ini, sudah sangat kuat kamu berjuang melawan
sakit ini.. kini saatnya kamu tenang disana, kini saatnya kamu menikmati
keindahan disana, membalas semua rasa sakitmu di dunia ini, engkau akan hidup
tenang, bahagia, dan abadi disana wahai sahabatku...” Kata-kata terakhir yang
Bella mampu ucapkan sebelum tangisnya meledak.-SELESAI-