Sabtu, 22 Februari 2014

Tentang aku dan skoliosis

Diposting oleh Reni Febrianti di 01.08
Hai, aku boleh cerita?
Nama aku Reni, umurku 14 tahun. Jadi gini, aku punya sahabat namanya itu scoliosis. Sudah hampir 5tahun aku bersamanya. Dia itu setia banget, gapernah mau jauh dari aku. Dengan setia dia selalu menemaniku, saat senang dan sedih dia selalu ada bersamaku. Tapi scoliosis itu suka ngambek, aku gasuka kalau dia lagi ngambek. Kalau dia ngambek itu nyakitin aku, dia bikin punggung sampai pinggul ku sakit, rasanya tuh sampe gabisa diungkapin. Kadang yang bikin aku sampe nangis, pinggul aku itu terasa miring banget. Semakin kesini, dia semakin egois, dia sering matahin semangat aku, seringkali bikin aku sedih ketika aku bercermin, bikin aku minder, dan dia makin gak bersahabat.
Pertama kali aku menyadari kehadirannya adalah ketika aku duduk di bangku kelas 5 SD. Saat aku sedang duduk mamah ku bilang “Ni, kok punggung kamu makin bungkuk ya?” Aku yang sedang asik bermain tak menghiraukan apa yang dikatakan mamaku, lagi pula saat itu aku belum sepenuhnya menyadari kehadirannya, yang aku tau hanyalah punggung ku agak sedikit bengkok. 
Dari kecil aku sudah rajin berenang, makanya pada saat itu scoliosis belum terlalu mempengaruhi hidupku. Tapi semua itu mulai berubah saat aku memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat aku SMP, aku mulai disibukkan oleh banyak kegiatan disekolah, tentu semua kegiatan itu seringkali membuat ku kelelahan, waktu ku untuk renang pun ikut tersita karna banyak nya kegiatan ku disekolah membuat ku memilih untuk beristirahat saat liburan dibanding harus capek-capek berenang. Semakin lama, rasa sakit itu mulai menjadi-jadi. Rasa ngilu di tulang belakang, sesak nafas, beradu menjadi satu setiap kali aku selesai melakukan berbagai aktifitas yang melelahkan.

Saat aku bercermin..
Ada apa dengan ku? Dengan tulang belakangku? Kenapa semakin terlihat tidak simetris?
Aku sebelumnya tak pernah menyangka, bahwa punggungku akan sebengkok ini. Kemudian aku baru ingat, waktu aku SD aku pernah belajar tentang macam-macam kelainan tulang belakang, aku mencari ciri-ciri kelainan tulang belakang seperti yang aku alami, dan.. ya, scoliosis aku menyandang scoliosis. Sejak saat itu, aku menjadi lebih sering mencaritahu tentang scoliosis.
Hingga pada suatu hari kedua orangtua ku membawaku terapi ketempat spesialis tulang. Itu adalah terapi pertamaku, sakit nya bukan main, bahkan aku sampai harus menggunakan benda yang bernama gips. Aku fikir, tak apalah selama aku masih bisa menahan rasa sakit itu. Aku terus bersabar, setiap 3 hari aku menjalani terapi itu dengan rutin, padahal dalam waktu 3 hari itu sakit sesudah terapi pun masih berbekas. Ada rasa ingin menyerah, aku takut jika semua ini sia-sia. Tapi aku juga ingin bisa kembali normal, lalu aku buang rasa takut itu jauh-jauh.
Tapi hanya 1 bulan aku sanggup menjalani terapi itu. Nihil, hanya sakit yang kurasa, tak ada perubahan apapun secara fisik. Hingga selang beberapa bulan kemudian, orangtua ku membawa ku ke dokter spesialis tulang (orthopedi). Disana aku diperiksa, aku disuruh membungkuk 90 derajat, setelah itu aku disuruh keruang radiologi untuk di rontgen terlebih dahulu. Setelah diradiologi, dokterpun menjelaskan tentang hasilnya.
Ya, benar aku menyandang scoliosis, derajat kemiringan ku adalah 35 derajat, iya memang tidak terlalu besar, tapi berhubung aku memiliki badan yang gendut jadi 35 derajat saja sudah sangat menggangguku. Lalu, aku bercerita banyak pada dokter, tentang rasa sakitku, aku juga banyak bertanya mengenai scoliosis. Dan dengan sabar dokter menjawab pertanyaanku satu per satu.
Tapi ada satu jawaban yang membuat ku sangat terpukul, ketika aku bertanya tentang penyembuhan dengan cara terapi dokter malah menjawab “Terapi itu sia-sia hanya buang-buang uang saja, cuman nyiksa kamu, di terapi itu sakit banget kan?”. Rasanya hatiku bagai dicabik-cabik, jadi selama ini aku menahan rasa sakit itu.. semuanya sia-sia?
Aku kembali menjalani kehidupan normal ku seperti biasa, dengan sahabatku tentu nya si scoliosis. Tak jarang orang memandangku dengan tatapan aneh, tak jarang teman-teman ku meledek ku karna aku memiliki tulang belakang yang tak normal seperti mereka.
Kadang aku marah, aku sedih, kenapa? Kenapa harus aku yang menerima semua ini, Yang merasakan semua rasa sakit ini? 

Sekarang aku kembali menjalani terapi alternatif, kali ini sakitnya tak sesakit yang sebelumnya, sudah 3 bulan aku menjalani terapi ini, aku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Jadi, apa salahnya jika aku mencobanya kembali?
Ketika ‘sahabat’ ku ini marah, karna aku telalu lelah melakukan berbagai aktifitas yang melelahkan.. aku hanya bisa diam, bersabar, menahan amarah. Karna scoliosis aku jadi tidak leluasa melakukan berbagai aktifitas, karna dia aku jadi tidak bisa memakai macam-macam pakaian yang sedang trend, karna dia aku seringkali kehilangan kepercayaan diriku. Terkadang aku ingin menceritakan keluh kesah ku tentang scoliosis ini kepada teman-temanku, orangtua ku, tapi mereka selalu menjawab dengan jawaban “Sabar” iya, aku tau aku harus sabar, aku tau aku harus kuat, tapi sekuat-kuatnya anak umur 14 tahun itu sekuat apasih? Siapa sangka jika dibalik gelak tawaku tersimpan ribuan kisah pilu. Cobalah tengok kedalam, hatiku begitu rapuh tiap kali aku mengingat tentang scoliosis, tapi rasanya tak pantas jika aku harus menyalahkan takdir.
Tapi lama-lama aku sadar..
Dia lah yang membuatku menjadi kuat
Dia bisa menunjukan siapa yang benar-benar mau menjadi temanku
Dia yang melatihku untuk menjadi lebih sabar, ketika orang-orang memandangku sebelah mata
Dia mendukungku untuk menutup aurat
Dia yang buat aku sadar, sesempurna nya orang, pasti memiliki kekurangan
Kalau kenyataannya aku memang scoliosis, aku tak perlu lagi berkecil hati, karna aku tidak sendiri. Masih banyak teman-teman ku diluar sana yang scoliosis bahkan jauh lebih parah dari aku:).
Ini adalah foto sahabatku, diambil pada tanggal 19 Agustus 2013.


3 komentar:

Dangerous Lemon on 29 Maret 2014 pukul 21.13 mengatakan...

Semangat nottttt

Feni Putri Alifa on 30 Maret 2014 pukul 06.58 mengatakan...

Semangat Reeennn! Gue yakin lo bisa ngelawan penyakit itu. Jangan putus asa,yakin Allah selalu menolong hambanya. Semangaaaaatttt!!!

Reni Febrianti on 30 Maret 2014 pukul 07.37 mengatakan...

Pastiiii makasih semuanyaaa!(:

Posting Komentar

 

Reni Febrianti Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos