Senin, 28 April 2014

Telah Aku Kembalikan Kebahagiaanmu

Diposting oleh Reni Febrianti di 10.24 0 komentar
Untuk mu yang tercinta

Hai yang manis disana, bagaimana kabarmu? 
Aku sangat merindukan mu, setelah sekian lama kita tidak berbagi cerita
Aku masih disini..
Masih tetap mencintaimu
Masih dengan cinta yang sama saat sebelum kamu perlahan-lahan pergi menjauh dariku
Masih dengan harapan yang sama, berharap kamu segera kembali
Masih dengan jiwa yang sama, yang kosong tanpa kehadiranmu.
Jika saja bisa..
Aku masih ingin berada disisi mu, mengisi hari-harimu
Jika saja bisa..
Aku masih ingin menjadi satu-satunya pusat perhatianmu
Jika saja bisa..
Aku masih ingin terus bersamamu

Tapi kini kamu telah temukan kebahagiaan barumu
Bersamanya kamu selalu bahagia, bersamanya hidupmu jauh lebih berwarna.
Aku mengerti jika aku membosankan, tapi aku disini, dengan caraku selalu mencoba menghiburmu.

Hingga pada akhirnya aku sadar, jika perasaan setiap manusia tidak bisa dipaksakan
Aku mengerti, sekeras apapun aku berusaha, jika hatimu bukanlah untukku maka semua perjuangan itu tiada arti.
Jika kamu bersamaku tapi tak bahagia, apa artinya aku? 
Tujuan ku hanya satu, hanya ingin melihatmu bahagia lagi. 
Dan jika bersamanya membuatmu bahagia, lakukanlah. Aku yang akan mengalah
Karna sebelumnya aku pernah melihatmu tertawa, bahagia, dan kita jatuh cinta bersama.
Jika hanya dia yang kini dapat mengembalikan kebahagiaan mu, kejarlah dia, karena kini dia adalah kebahagiaan mu. Dia yang akan mengembalikan tawa mu.
Karna ini adalah pengorbanan terakhirku ; membiarkanmu bahagia tanpa diriku
Kamu takkan terlupakan, karna kamu telah menempati satu tempat istimewa dihatiku.
Aku disini akan selalu menjadi mataharimu yang setia menyemangatimu dalam do'a.

with love,
Reni

Sabtu, 22 Maret 2014

Diposting oleh Reni Febrianti di 22.37 0 komentar
Gilang Dirgahari - Bahagialah Cinta

Cinta kini kau dimana
apakah kau baik saja
tahukah kau kini ku merindu
rindu sentuhan kalbumu

Sayang kau ajarkan cinta
waktu ku takut mencoba
kau bawa lagi senyum dan tawa
kau sempurnakan segalanya

Masih terbayang
riuh rendah canda tawamu kekasih
ingin memelukmu 
namun aku tau engkau kini jauh
dengar
dengarlah..

Kucinta dirimu namun perih
kusayang dirimu tapi sakit
kurindukan engkau namun pahit
yang ku inginkan hanya
cinta terulang kembali

Salahkah biarkan engkau pergi
kecewakan kau berulang kali
kini kau tlah menjadi miliknya
satu do'a ku kasih
bahagialah bersamanya..
Diposting oleh Reni Febrianti di 06.03 0 komentar
Everything has gotten back to life as usual
but I still feel pain in my heart
I've talked a lot since I met you
You reminded me that the world is still hopeful
Because you have shown me the light when I got lost
And because you're the warm of winter to me

I always wish the best for you in my pray
Wondering will it reach you...
Everything clear in my vision but blur for my mind
Being transient the disappearing

I wanna be a better person for you
Even if you smile at me just once
Is enough for me
Enough for make me happy

Boy you know when you lose your smile
I will place the blame on my self
Those words, and even the light
I will lose sight of everything

If only I could love you for the rest of my life
The other things, like my dream and my hope
I'll know all of them away
Just to be loved by you

It's love that make me happy
It's love that make me strong
I won't wish selfish anymore
Because I love him..
I'll be okay even if it'll hurt me

(The Sadness Winter in Korea)

Jumat, 07 Maret 2014

Kahlil Gibran

Diposting oleh Reni Febrianti di 07.24 0 komentar
Cinta Yang Agung - Kahlil Gibran

Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih
peduli terhadapnya..

Adalah ketika dia tak mempedulikanmu dan kamu
masih menunggunya dengan setia
Adalah ketika dia mulai mencintai oranglain dan kamu masih
menunggunya dengan setia..
Adalah ketika dia mulai mencintai oranglain dan kamu
masih bisa tersenyum sembari berkata "Aku turut
berbahagia untukmu"
Apabila cinta tidak berhasil..
Bebaskan dirimu..
Biarkan hatimu melebarkan sayapnya dan
terbang ke alam bebas lagi..
Ingatlah..
bahwa kamu mungkin menemukan cinta
dan kehilangannya..
tapi..
ketika cinta itu mati..
kamu tidak perlu mati bersamanya..
Orang terkuat bukan mereka yang selalu menang..
Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh

Khalil Gibran

Diposting oleh Reni Febrianti di 06.46 0 komentar
Lagu Gelombang - Khalil Gibran


Aku telah bernyanyi untukmu
Tapi kau tidak juga menari
Aku telah menangis didepanmu
Tapi kau tidak juga mengerti
Haruskah aku menangis sambil bernyanyi

Haruskah seluruh nilai terabaikan
Agar kau bisa menari dan mengerti
Atau haruskah cerita itu terulang
Agar aku bisa menangis dan bernyanyi

Haruskah tarianku lebih vulgar
Agar kau bisa memahami
Atau haruskah aku berteriak
Agar menjadi manusia tak tau diri

Haruskah aku berdiam diri
Agar tarianku tersembunyikan
Atau haruskah aku berontak
Agar kau bisa melihat tarianku

Haruskah aku memaksa
Agar kau merasa terdesak
Ataukah harus aku mematung
Agar kau tak merasa tersudut

Haruskah aku menghilang
Agar kau tak merasakan beban
Ataukah harus aku pergi
Agar kau tak perlu mengilangkan diri

Haruskah aku..

Harusnya aku menyadari
Kau tak butuh nyanyian dan tangisan
Harusnya aku pahami
Kau tak ingin diberi nyanyian dan tangisan

Harusnya aku mengerti
Kau tak ingin menari atau mengerti

Harusnya aku..
Harus aku kembalikan kesadaran
Bahwa aku tak bisa untuk tidak
Meluapkan nyanyian dan tangisan

Harus..
Harusnya arus ini mengalir
Namun ia tak peduli
Pusarannya terlalu kuat
Melingkar-lingkar didalam buntu
Menjambak harga dari sebuah nilai

Sabtu, 22 Februari 2014

Tentang aku dan skoliosis

Diposting oleh Reni Febrianti di 01.08 3 komentar
Hai, aku boleh cerita?
Nama aku Reni, umurku 14 tahun. Jadi gini, aku punya sahabat namanya itu scoliosis. Sudah hampir 5tahun aku bersamanya. Dia itu setia banget, gapernah mau jauh dari aku. Dengan setia dia selalu menemaniku, saat senang dan sedih dia selalu ada bersamaku. Tapi scoliosis itu suka ngambek, aku gasuka kalau dia lagi ngambek. Kalau dia ngambek itu nyakitin aku, dia bikin punggung sampai pinggul ku sakit, rasanya tuh sampe gabisa diungkapin. Kadang yang bikin aku sampe nangis, pinggul aku itu terasa miring banget. Semakin kesini, dia semakin egois, dia sering matahin semangat aku, seringkali bikin aku sedih ketika aku bercermin, bikin aku minder, dan dia makin gak bersahabat.
Pertama kali aku menyadari kehadirannya adalah ketika aku duduk di bangku kelas 5 SD. Saat aku sedang duduk mamah ku bilang “Ni, kok punggung kamu makin bungkuk ya?” Aku yang sedang asik bermain tak menghiraukan apa yang dikatakan mamaku, lagi pula saat itu aku belum sepenuhnya menyadari kehadirannya, yang aku tau hanyalah punggung ku agak sedikit bengkok. 
Dari kecil aku sudah rajin berenang, makanya pada saat itu scoliosis belum terlalu mempengaruhi hidupku. Tapi semua itu mulai berubah saat aku memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat aku SMP, aku mulai disibukkan oleh banyak kegiatan disekolah, tentu semua kegiatan itu seringkali membuat ku kelelahan, waktu ku untuk renang pun ikut tersita karna banyak nya kegiatan ku disekolah membuat ku memilih untuk beristirahat saat liburan dibanding harus capek-capek berenang. Semakin lama, rasa sakit itu mulai menjadi-jadi. Rasa ngilu di tulang belakang, sesak nafas, beradu menjadi satu setiap kali aku selesai melakukan berbagai aktifitas yang melelahkan.

Saat aku bercermin..
Ada apa dengan ku? Dengan tulang belakangku? Kenapa semakin terlihat tidak simetris?
Aku sebelumnya tak pernah menyangka, bahwa punggungku akan sebengkok ini. Kemudian aku baru ingat, waktu aku SD aku pernah belajar tentang macam-macam kelainan tulang belakang, aku mencari ciri-ciri kelainan tulang belakang seperti yang aku alami, dan.. ya, scoliosis aku menyandang scoliosis. Sejak saat itu, aku menjadi lebih sering mencaritahu tentang scoliosis.
Hingga pada suatu hari kedua orangtua ku membawaku terapi ketempat spesialis tulang. Itu adalah terapi pertamaku, sakit nya bukan main, bahkan aku sampai harus menggunakan benda yang bernama gips. Aku fikir, tak apalah selama aku masih bisa menahan rasa sakit itu. Aku terus bersabar, setiap 3 hari aku menjalani terapi itu dengan rutin, padahal dalam waktu 3 hari itu sakit sesudah terapi pun masih berbekas. Ada rasa ingin menyerah, aku takut jika semua ini sia-sia. Tapi aku juga ingin bisa kembali normal, lalu aku buang rasa takut itu jauh-jauh.
Tapi hanya 1 bulan aku sanggup menjalani terapi itu. Nihil, hanya sakit yang kurasa, tak ada perubahan apapun secara fisik. Hingga selang beberapa bulan kemudian, orangtua ku membawa ku ke dokter spesialis tulang (orthopedi). Disana aku diperiksa, aku disuruh membungkuk 90 derajat, setelah itu aku disuruh keruang radiologi untuk di rontgen terlebih dahulu. Setelah diradiologi, dokterpun menjelaskan tentang hasilnya.
Ya, benar aku menyandang scoliosis, derajat kemiringan ku adalah 35 derajat, iya memang tidak terlalu besar, tapi berhubung aku memiliki badan yang gendut jadi 35 derajat saja sudah sangat menggangguku. Lalu, aku bercerita banyak pada dokter, tentang rasa sakitku, aku juga banyak bertanya mengenai scoliosis. Dan dengan sabar dokter menjawab pertanyaanku satu per satu.
Tapi ada satu jawaban yang membuat ku sangat terpukul, ketika aku bertanya tentang penyembuhan dengan cara terapi dokter malah menjawab “Terapi itu sia-sia hanya buang-buang uang saja, cuman nyiksa kamu, di terapi itu sakit banget kan?”. Rasanya hatiku bagai dicabik-cabik, jadi selama ini aku menahan rasa sakit itu.. semuanya sia-sia?
Aku kembali menjalani kehidupan normal ku seperti biasa, dengan sahabatku tentu nya si scoliosis. Tak jarang orang memandangku dengan tatapan aneh, tak jarang teman-teman ku meledek ku karna aku memiliki tulang belakang yang tak normal seperti mereka.
Kadang aku marah, aku sedih, kenapa? Kenapa harus aku yang menerima semua ini, Yang merasakan semua rasa sakit ini? 

Sekarang aku kembali menjalani terapi alternatif, kali ini sakitnya tak sesakit yang sebelumnya, sudah 3 bulan aku menjalani terapi ini, aku percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Jadi, apa salahnya jika aku mencobanya kembali?
Ketika ‘sahabat’ ku ini marah, karna aku telalu lelah melakukan berbagai aktifitas yang melelahkan.. aku hanya bisa diam, bersabar, menahan amarah. Karna scoliosis aku jadi tidak leluasa melakukan berbagai aktifitas, karna dia aku jadi tidak bisa memakai macam-macam pakaian yang sedang trend, karna dia aku seringkali kehilangan kepercayaan diriku. Terkadang aku ingin menceritakan keluh kesah ku tentang scoliosis ini kepada teman-temanku, orangtua ku, tapi mereka selalu menjawab dengan jawaban “Sabar” iya, aku tau aku harus sabar, aku tau aku harus kuat, tapi sekuat-kuatnya anak umur 14 tahun itu sekuat apasih? Siapa sangka jika dibalik gelak tawaku tersimpan ribuan kisah pilu. Cobalah tengok kedalam, hatiku begitu rapuh tiap kali aku mengingat tentang scoliosis, tapi rasanya tak pantas jika aku harus menyalahkan takdir.
Tapi lama-lama aku sadar..
Dia lah yang membuatku menjadi kuat
Dia bisa menunjukan siapa yang benar-benar mau menjadi temanku
Dia yang melatihku untuk menjadi lebih sabar, ketika orang-orang memandangku sebelah mata
Dia mendukungku untuk menutup aurat
Dia yang buat aku sadar, sesempurna nya orang, pasti memiliki kekurangan
Kalau kenyataannya aku memang scoliosis, aku tak perlu lagi berkecil hati, karna aku tidak sendiri. Masih banyak teman-teman ku diluar sana yang scoliosis bahkan jauh lebih parah dari aku:).
Ini adalah foto sahabatku, diambil pada tanggal 19 Agustus 2013.


Minggu, 16 Februari 2014

Kepergian mu

Diposting oleh Reni Febrianti di 01.53 0 komentar
Aku sadar..
Aku ga akan selamanya bersamamu seperti sekarang ini.
Saat waktu itu tiba, aku harus bisa merelakanmu pergi dariku.
Meski dengan harapan jika suatu hari nanti kita akan dipersatukan kembali.
Jika waktu itu telah tiba..
Akankah kau sepenuhnya melupakanku?Disaat aku benar-benar merindukanmu
Akankah kau..Ah, sudahlah tak ada guna aku berharap banyak padamu.
Tapi jika nyatanya kau memang merasakan hal yang sama denganku..
Ah itu tidak mungkin!Pertanyaan macam itu sering kali menggangu fikiranku
Jika suatu saat aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu. Apa yang harus aku lakukan?
Ada rasa ingin menghubungi mu kembali, hanya untuk menanyakan kabarmu atau bertanya "sedang apa dirimu?" meski kesannya begitu klise.
Karna aku pun tidak tau mau memulai darimana.
Tapi belum selesai aku memikirkan cara bagaimana untuk melepas rinduku padamu pertanyaan itu kembali muncul "Apakah kau masih menganggap ku ada?"
Seharusnya aku senang karna mungkin kau telah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ada yang mengatakan "Aku bahagia hanya bila kau bahagia" Ya, mungkin memang benar. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatiku.
Jika nyatanya kau bahagia bersama oranglain, apakah aku masih harus tetap 'bahagia' atau bahkan berpura-pura untuk bahagia? Sepertinya tidak, karna itu jelas akan lebih menyakitkan.
Lantas aku harus apa?
 

Reni Febrianti Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos